Plt Bupati Pati Apresiasi Pelestarian Tradisi Lamporan

- Jurnalis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PATI – Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, kembali menghidupkan tradisi Lamporan melalui kegiatan Wiwitan dan Gelar Budaya yang digelar Jumat (19/6/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Plat K tersebut diikuti warga dan seniman lokal sebagai upaya melestarikan budaya leluhur, mengenang tradisi penolak pagebluk pada masa lampau, sekaligus menjadi ruang pembelajaran budaya bagi generasi muda.

Lamporan berasal dari kata lampor atau obor, kemudian nama tersebut menjadi sebuah upacara dalam aspek sosial-budaya di desa Soneyan. Namun antara obor dan lampor ada perbedaan, kalau obor biasanya terbuat dari bambu yang diberi media minyak tanah dan kain yang menjadi sumbunya, tetapi kalau lampor terbuat dari daun kelapa yang sudah kering (blarak) yang diikat menjadi satu menjulang ke atas kemudian dibakar ujungnya.

Lampor dibawa sekelompok orang yang memakai kostum rumbai-rumbai yang dibuat dari daun kelapa muda (janur). Kelompok yang bertugas membawa lampor disebut “Dayakan” (ndayakan).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekelompok Dayakan berbaris dan menari-nari dengan dipimpin oleh tetua desa yang memandu dan memimpin prosesi mengiring lampor keliling kampung dengan diiringi alunan musik tongtek yang meliputi,
tontongan/kentongan, jidor, dan icik-icik.

Baca Juga :  Belasan Remaja Diduga Hendak Tawuran di Sukolilo Berhasil Diamankan Polisi

Acara tersebut dihadiri Camat Margoyoso, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Desa Soneyan, Kepala Dusun Sumber, Ketua Panitia Lamporan, Presiden Plat K, serta masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengapresiasi konsistensi masyarakat dan Komunitas Plat K dalam menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Lamporan bukan sekadar pertunjukan budaya. Ini adalah warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi berikutnya,” ujar Chandra.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pati memberikan dukungan penuh terhadap berbagai kegiatan seni dan budaya yang digagas masyarakat. Menurutnya, pelestarian budaya merupakan bagian penting dalam menjaga identitas daerah di tengah perkembangan zaman.

“Pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi komunitas seni dan budaya untuk berkarya. Pendopo Kabupaten Pati juga terbuka untuk digunakan sebagai tempat penyelenggaraan festival dan kegiatan kebudayaan,” kata Chandra.

Selain dukungan terhadap sektor budaya, Chandra menyampaikan bahwa pemerintah daerah saat ini juga fokus pada pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Fokus tersebut meliputi perbaikan infrastruktur jalan, penguatan layanan kesehatan melalui BPJS, serta pendidikan negeri gratis.

Ia menilai pembangunan fisik dan pembangunan karakter masyarakat harus berjalan beriringan. Karena itu, pelestarian budaya tetap menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan daerah.

Baca Juga :  SPPG Polri Perkuat Kepedulian Sosial, Warga Tondomulyo Terima MBG di Tengah Banjir

“Jalan harus baik agar aktivitas masyarakat lancar. Kesehatan dan pendidikan juga harus mudah diakses. Namun budaya tidak boleh ditinggalkan karena menjadi jati diri daerah kita,” tegas Chandra.

Pada kesempatan tersebut, Chandra juga mengajak para orang tua untuk lebih bijak dalam mengawasi penggunaan telepon genggam pada anak-anak. Menurutnya, interaksi sosial dan ruang pergaulan yang sehat perlu terus dijaga agar generasi muda tidak kehilangan nilai-nilai kebersamaan.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah tengah menginisiasi pendirian Museum Kabupaten Pati sebagai wadah bagi para seniman, budayawan, dan komunitas kreatif untuk berkumpul, berkarya, serta mendokumentasikan kekayaan budaya daerah.

“Ke depan kami ingin memiliki museum sebagai rumah bersama bagi para seniman dan pelaku budaya. Tempat ini nantinya menjadi ruang pelestarian sekaligus edukasi bagi masyarakat,” ungkap Chandra.

Melalui kegiatan Lamporan Wiwitan dan Gelar Budaya Desa Soneyan, Pemerintah Kabupaten Pati menegaskan komitmennya untuk mendukung pelestarian budaya lokal, memperluas ruang kreativitas bagi komunitas seni, serta memastikan pembangunan daerah berjalan seimbang antara kemajuan fisik dan penguatan nilai-nilai budaya masyarakat.

Berita Terkait

Putra – Putri Terbaik Desa Jomblang Lolos Jadi Paskibraka Kabupaten 2026
Usai Salat Jumat, Bhabinkamtibmas Polresta Pati Bagikan Berkah untuk Warga Desa Tompomulyo
Chandra: Pembangunan Harus Menjawab Persoalan Masyarakat
Polresta Pati Beri bantuan Air Bersih Kepada Masyarakat yang Betul Betul Membutuhkan
Chandra : Pati 703 Tahun, Kemajuan Harus Terasa
Chandra Buka Ruang Inovasi untuk Generasi Muda
Turnamen Tenis Meja HUT RI ke-81 di Sukolilo Pererat Sinergi Polisi, TNI, dan Masyarakat
Momen Keakraban Kapolresta Pati dan Ketua Bhayangkari Saat Berbagi Ceria di TK Kemala Bhayangkari
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 12:17 WIB

Putra – Putri Terbaik Desa Jomblang Lolos Jadi Paskibraka Kabupaten 2026

Jumat, 7 Agustus 2026 - 18:26 WIB

Usai Salat Jumat, Bhabinkamtibmas Polresta Pati Bagikan Berkah untuk Warga Desa Tompomulyo

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:37 WIB

Chandra: Pembangunan Harus Menjawab Persoalan Masyarakat

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:34 WIB

Polresta Pati Beri bantuan Air Bersih Kepada Masyarakat yang Betul Betul Membutuhkan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Chandra : Pati 703 Tahun, Kemajuan Harus Terasa

Berita Terbaru

Uncategorized

Chandra: Pembangunan Harus Menjawab Persoalan Masyarakat

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:37 WIB

Uncategorized

Chandra : Pati 703 Tahun, Kemajuan Harus Terasa

Jumat, 7 Agu 2026 - 14:09 WIB